loading...
Pengurus
Wah, Kehamilan Ternyata Bisa Menular, lho!

Kabar bahwa kehamilan bisa menular tidak sepenuhnya mitos belaka. Meski tidak menular secara fisik, kehamilan bisa “menular” secara emosional.

Menurut sebuah penelitian, kehamilan mungkin bisa “menular” pada mereka yang memiliki ikatan pertemanan. Hal ini bisa terjadi karena secara emosional, keinginan untuk memiliki anak dapat muncul saat kamu melihat teman dekat sudah memiliki anak. .

“Menular” Secara Emosional

Salah satu mitos kehamilan yang masih dipercaya masyarakat adalah kehamilan bisa menular. Kehamilan sebenarnya memang bisa “menular”, namun bukan melalui kontak fisik dengan teman yang sedang hamil, melainkan melalui kontak emosional.

Mengapa bisa demikian? Penelitian mengungkapkan, jika kamu memiliki teman sebaya yang hamil, maka kemungkinan kamu akan “tertular” hamil sekitar dua tahun kemudian. Hal ini kemungkinan terjadi karena kamu juga akan segera merencanakan kehamilan begitu temanmu hamil.

Mengapa peranan teman begitu penting dalam memengaruhi keputusan tersebut? Dalam penelitian tersebut terungkap bahwa teman memiliki pengaruh yang kuat dalam urusan memiliki momongan, walaupun pengaruh ini bersifat jangka pendek.

Selain itu, kecenderungan manusia yang selalu membandingkan diri dengan teman, terutama teman sebaya, juga memiliki pengaruh.

Umumnya keinginan untuk memiliki anak ini akan terasa sekitar dua tahun setelah temanmu melahirkan. Setelah itu, keinginan tersebut menurun. Berdasarkan hal tersebut, bisa disimpulkan bahwa secara tidak disadari, rencana untuk memiliki anak bisa dipengaruhi oleh lingkungan pertemanan.

Pentingnya Kesiapan Emosional untuk Hamil

Keinginan yang “menular” untuk segera memiliki anak setelah melihat teman hamil atau baru mendapatkan momongan sebenarnya sah-sah saja, namun jangan sampai kamu mengabaikan kesiapan dirimu untuk menjadi orang tua. Ingat, menjadi orang tua merupakan tanggung jawab yang berat dan tidak bisa dijalani hanya demi memenuhi tuntutan sosial.

Jadi kamu ingin memiliki momongan, pastikan kamu dan pasangan sudah benar-benar siap. Kesiapan yang dibutuhkan bukan hanya dari sisi finansial, tetapi juga kesiapan secara emosional, karena kehidupanmu dan pasangan akan mengalami perubahan besar setelah memiliki anak.

Nah, bagi kamu yang sedang merencanakan kehamilan, berikut adalah beberapa tanda bahwa kamu sudah siap secara emosional:

Siap “mengorbankan” hal-hal yang kamu sukai

Kamu sudah siap “mengorbankan” hal-hal yang kamu sukai, dan bersedia bila tidak dapat melakukannya sesering dulu. Kamu sadar bahwa kebebasan untuk melakukan hal-hal yang biasa kamu lakukan, seperti berpesta atau hangout bersama teman, harus dibatasi setelah kamu memiliki anak.

Dapat menyeimbangkan urusan kantor dan rumah

Saat sudah siap memiliki anak, kamu sudah harus paham mana yang akan menjadi prioritas utamamu nantinya. Jika kamu ibu bekerja, maka sudah tidak bisa lagi seenaknya lembur dan pulang hingga larut malam, karena ada Si Kecil yang membutuhkanmu di rumah.

Pastikan rumah tanggamu berjalan harmonis

Tidak perlu pernikahan yang sempurna untuk memiliki anak, tetapi pastikan rumah tanggamu dalam kondisi yang baik dan tidak memiliki masalah yang serius, seperti perselingkuhan, kekerasan rumah tangga, atau masalah komunikasi.

Meski kehamilan menular secara fisik hanya mitos, namun ada kemungkinan menular secara emosional antara teman yang sebaya. Bila kamu merasa sudah siap untuk menjadi orang tua, berkonsultasilah dengan dokter kandungan untuk mulai merencanakan kehamilan.

Sumber : AloDokter.Com