Pengurus
obat-sistenol-doktersehat

Sistenol obat apa? Sistenol adalah obat dengan kandungan bahan aktif Paracetamol dan N-Acetylcysteine. Obat Sistenol biasa digunakan untuk mengatasi batu berdahak dan demam yang merupakan gejala dari influenza.

Ketahui lebih lanjut tentang kandungan, manfaat, dosis, efek samping, dan lainnya tentang obat Sistenol melalui artikel ini.

Kandungan dan Cara Kerja Obat Sistenol

Sistenol memiliki kandungan Paracetamol dan N-Acetylcysteine. Berikut adalah penjelasan tentang cara kerja kandungan yang ada dalam obat Sistenol:

1. Paracetamol

Paracetamol adalah obat analgesik (anti nyeri) sekaligus antipiretik (pereda demam).

Obat ini bekerja dengan cara menghambat senyawa prostaglandin, yaitu senyawa yang dilepaskan tubuh ketika mengalami infeksi. Prostaglandin adalah senyawa yang menyebabkan munculnya reaksi peradangan seperti nyeri dan demam.

2. N-Acetylcysteine

N-Acetylcysteine adalah asam amino yang berasal dari asam amino L-Cysteine.

N-Acetylcysteine masuk ke dalam golongan obat mukolitik, yaitu obat yang digunakan untuk mengencerkan dahak. Asam amino ini juga dapat digunakan untuk mengatasi keracunan Paracetamol dan juga bertindak sebagai antioksidan.

Manfaat Sistenol

Berdasarkan cara kerja bahan aktif yang ada di dalam Sistenol, berikut adalah manfaat Sistenol:

  • Mengatasi batuk berdahak
  • Mengatasi demam akibat influenza

Dosis Sistenol

Sistenol tersedia dalam sediaan tablet salut selaput. Setiap tabletnya memiliki kandungan Paracetamol 500 mg dan N-Acetylcysteine 200 mg. Dosis Sistenol dibedakan berdasarkan usia penggunanya.

Berikut adalah dosis Sistenol yang disarankan:

  • Dewasa dan anak usia di atas 11 tahun: 1 tablet, diberikan 3 kali sehari.
  • Anak usia 6-11 tahun: ½-1 tablet, diberikan 3 kali sehari.
  • Anak usia 1-5 tahun: ¼-½ tablet, diberikan 3 kali sehari.

Dosis di atas adalah dosis yang lazim diberikan. Dosis dapat berbeda menyesuaikan kondisi dan kebutuhan pasien. Jangan mengganti dosis tanpa berdiskusi dengan dokter atau apoteker sebelumnya.

Petunjuk Penggunaan Sistenol

Penggunaan obat Sistenol sebaiknya digunakan sesuai dengan aturannya. Berikut adalah petunjuk penggunaan Sistenol:

  • Obat sistenol sebaiknya dikonsumsi setelah makan.
  • Gunakan obat Sistenol sesuai dengan dosis yang disarankan.
  • Gunakan obat Sistenol pada waktu yang sama setiap harinya.
  • Jika dosis terlewat, segera konsumsi obat saat ingat. Namun jika dekat dengan dosis selanjutnya, maka cukup konsumsi dosis selanjutnya saja.
  • Jika tidak sengaja mengonsumsi obat Sistenol melebihi dosis yang disarankan, segera konsultasikan ke dokter.

Petunjuk Penyimpanan Sistenol

Berikut adalah petunjuk penyimpanan Sistenol yang harus diperhatikan:

  • Simpan obat Sistenol pada suhu di bawah 30°C.
  • Simpan obat Sistenol di tempat kering dan tidak lembap.
  • Hindari obat Sistenol dari cahaya atau sinar matahari langsung.
  • Hindari obat Sistenol dari jangkauan anak-anak dan hewan peliharaan.

Efek Samping Sistenol

Setiap obat memiliki potensi untuk menimbulkan efek samping, termasuk Sistenol yang memiliki kandungan Paracetamol dan N-Acetylcysteine. Berikut adalah efek samping yang muncul dari penggunaan obat Sistenol:

  • Gangguan saluran pencernaan
  • Mual dan muntah
  • Purpura
  • Trombosipenia
  • Neutropenia
  • Reaksi alergi
  • Gangguan fungsi hati (penggunaan jangka panjang)

Efek samping tidak selalu terjadi. Efek samping dapat terjadi akibat penggunaan dosis berlebihan, penggunaan jangka panjang, atau akibat kondisi lainnya. Jika terjadi efek samping seperti reaksi alergi atau efek samping berat lainnya, segera hentikan penggunaan obat.

Jika gejala efek samping tidak membaik setelah penggunaan obat Sistenol dihentikan, segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Interaksi Obat Sistenol

Interaksi obat dapat terjadi ketika Sistenol digunakan bersama dengan jenis obat-obatan lain baik itu obat resep, non-resep, maupun herbal. Interaksi obat menyebabkan efektivitas obat menurun dan dapat meningkatkan potensi terjadinya efek samping.

Berikut adalah jenis obat yang sebaiknya tidak digunakan bersama dengan Sistenol:

  • Antikoagulan
  • Nitroglycerin
  • Activated charcoal
  • Carbamazepine
  • Phenobarbital
  • Phenytoin
  • Phenothiazines
  • Obat lain dengan kandungan bahan aktif yang sama

Daftar obat di atas kemungkinan bukan merupakan daftar lengkap. Beri tahu dokter apabila Anda sedang mengonsumsi atau belakangan mengonsumsi obat-obatan tertentu. Penggunaan alkohol juga sebaiknya dihindari, karena konsumsi alkohol juga dapat menyebabkan interaksi obat.

Diskusikan juga dengan dokter tentang jenis makanan atau minuman yang sebaiknya dihindari selama penggunaan obat Sistenol untuk menghindari interaksi obat.

Peringatan dan Perhatian Sistenol

Sistenol termasuk ke dalam jenis obat keras yang penggunaannya harus melalui resep dokter. Berikut adalah beberapa hal lain yang perlu menjadi peringatan dan perhatian selama penggunaan obat Sistenol:

  • Jangan gunakan obat Sistenol pada pasien yang hipersensitif pada Paracetamol dan N-Acetylcysteine dan komponen lain dalam obat ini. Waspada jika Anda memiliki riwayat alergi obat sejenis.
  • Jangan gunakan obat ini pada pasien dengan gangguan fungsi hati atau gangguan fungsi ginjal berat.
  • Hati-hati penggunaan obat ini pada pasien yang memiliki kondisi seperti gangguan saluran pencernaan, asma, dan anemia.
  • Penggunaan obat ini dengan dosis yang berlebihan dan jangka panjang dapat berpotensi menyebabkan kerusakan fungsi hati.
  • Penggunaan N-Acetylcysteine dapat menyebabkan perlambatan pembekuan darah. Beri tahu dokter tentang penggunaan ini jika Anda akan melakukan prosedur bedah dalam waktu dekat.
  • Kedua bahan aktif dalam Sistenol masuk ke dalam obat kategori B menurut FDA. Hal ini menandakan bahwa obat ini relatif aman. Namun penggunaan pada ibu hamil tetap tidak disarankan dan harus di bawah pengawasan dokter.
  • Paracetamol dapat diserap ke dalam ASI, meskipun dalam jumlah kecil. Sedangkan untuk N-Acetylcysteine, belum ada studi terkontrol yang membuktikan zat ini diserap ke dalam ASI. penggunaan pada ibu menyusui sebaiknya didiskusikan dengan dokter lebih dulu.
  • Apabila demam tidak menurun dalam waktu 2 hari atau gejala lainnya tidak hilang dalam waktu 5 hari, segera hubungi dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Sumber : DokterSehat.Com