loading...
Pengurus
cara-menghilangkan-sakit-kepala-doktersehat

Sebagian besar di dunia pernah merasakan sakit kepala meskipun hanya satu kali. Sakit kepala bahkan menjadi jenis penyakit langganan pada beberapa orang. Apakah Anda juga sering merasakan sakit kepala?

Penjelasan ini cukup bermanfaat bagi penderita nyeri kepala terutama bagi yang sering mengalaminya. Baca terus untuk menemukanpenyebab sakit kepala, jenis-jenis sakit kepala, cara menghilangkan sakit kepala, dan beberapa informasi terkait lainnya.

Apa itu sakit kepala?

Sakit kepala adalah rasa sakit atau sensasi tidak nyaman di area kepala dan sekitarnya. Lokasi titik nyeri kepala cukup beragam. Ada sakit kepala yang terjadi pada satu sisi kepala, dua sisi, menyeluruh, atau satu titik saja.

Rasa sakit kepala yang dirasakan semua orang belum tentu sama sensasinya. Ada sakit kepala dengan sensasi berdenyut, sensasi menusuk, sensasi berputar, dan lainnya. Selain itu, ada sakit kepala yang muncul secara mendidik dan ada pula yang bertahap.

Pada umumnya, sakit kepala hanya terasa sekitar 1 jam. Namun, tidak sedikit pula sakit kepala yang dirasakan hingga berhari-hari. Sebaiknya, Anda waspada jika sakit kepala terjadi dalam jangka waktu lama dan dengan frekuensi tinggi.

Penyebab sakit kepala

Banyak orang berpikir bahwa penyebab sakit kepala itu sangat beragam. Hal tersebut memang benar karena banyak hal yang bisa menjadi penyebab nyeri kepala. Namun, secara garis besar, penyebab sakit kepala bisa disebabkan karena patologi tertentu dan tidak terkait dengan penyakit tertentu.

Jenis-jenis sakit kepala

Berdasarkan penyebabnya, sakit kepala dibedakan menjadi dua jenis, yaitu sakit kepala primer dan sakit kepala sekunder.

1. Sakit kepala primer

Nyeri kepala yang banyak terjadi adalah sakit kepala primer. Jenis sakit kepala primer tidak disebabkan karena jenis penyakit tertentu. Sakit kepala primer muncul karena adanya sensitivitas nyeri bagian tertentu di dalam kepala terhadap aktivitas kimia otak.

Beberapa bagian yang cukup sensitif terhadap aktivitas kimia di otak di antaranya adalah sel-sel saraf, pembuluh darah, otot-otot, dan lainnya. Pada beberapa kasus dengan masalah medis bawaan, peluang terjadinya sakit kepala primer lebih tinggi.

Ada beberapa faktor risiko terhadap sakit kepala primer:

  • pola diet buruk
  • pola tidur tidak teratur
  • kebiasaan minum alkohol
  • postur tubuh yang buruk
  • depresi

Jenis sakit primer yang paling terjadi, bisa diklasifikasikan menjadi:

1. Migrain dengan aura

Migrain adalah sakit kepala pada salah satu sisi, bisa hanya bagian kanan atau hanya bagian kiri. Jenis migrain dengan aura biasanya ditandai dengan gejala neurologis yang menemani ketika sakit kepala.

Gejala migrain dengan aura, seperti kelelahan otot-otot leher, nyeri leher, dan sering menguap. Migrain dengan aura sering terjadi secara berulang (kurang 5 menit sekali) dan bisa bertahan dalam beberapa menit (5 menit-1 jam).

2. Migrain tanpa aura

Migrain tanpa aura terjadi lebih lama dibanding migrain dengan aura, yakni bisa mencapai 4-72 jam. Gejala sakit kepala primer migrain tanpa aura memiliki sensasi berdenyut, mual, muntah, dan akan bertambah nyeri jika beraktivitas fisik rutin.

3. Sakit kepala tegang

Sakit kepala tegang adalah jenis sakit kepala primer yang sangat sering terjadi pada banyak orang. Ada orang yang memiliki sakit kepala tegang yang jarang dan ada pula yang tipe sering. Sakit kepala tegang tipe jarang hanya terjadi kurang dari 1 hari per bulan.

Pada nyeri kepala tegang yang jarang, sensasi nyeri cukup menekan, dengan tingkat ringan hingga sedang, dan berlangsung selama beberapa menit hingga harian. Rasa sakitnya tidak terkait dengan aktivitas fisik rutin.

Gejala sakit kepala tegang tipe sering juga sama seperti tipe jarang. Akan tetapi, tingkat frekuensi terjadinya berbeda, yaitu 1-14 hari per bulan. Sakit kepala tegang yang Anda alami termasuk tipe jarang atau sering?

4. Sakit kepala kluster

Ada juga jenis sakit kepala kluster yang termasuk sakit kepala primer. Jenis sakit kepala ini memiliki tingkat serangan yang berat, berlangsung sekitar 15 menit hingga 3 jam, dan bisa terjadi mulai dari 1-8 kali dalam sehari.

Gejala sakit kepala tipe kluster terjait dengan hidung tersumbat, konjungtivitis (mata merah), miosis, edema kelopak mata, lakrimasi, keringat pada dahi atau wajah, kegelisahan, dan lainnya.

2. Sakit kepala sekunder

Sakit kepala sekunder disebabkan karena adanya penyakit atau masalah medis lain yang diderita. Penyakit atau masalah medis tersebut meningkatkan tekanan di dalam rongga kepala.

Berikut ini adalah beberapa jenis sakit kepala sekunder:

  • Sakit kepala karena gangguan vaskular pada kranial atau servikal
  • Sakit kepala karena gangguan nonvaskular pada intrakranial
  • Sakit kepala karena trauma atau syok pada kepala atau leher
  • Sakit kepala karena penyakit infeksi
  • Sakit kepala karena adanya tumor atau kanker otak
  • Sakit kepala karena gangguan homeostatis
  • Sakit kepala atau nyeri wajah karena masalah pada mata, telinga, hidung, rongga sinus, gigi, dan lainnya
  • Sakit kepala karena gangguan psikiatri

Cara menghilangkan sakit kepala

Cara mengatasi sakit kepala berbeda-beda, yaitu tergantung dengan jenis, penyebab, dan gejalanya. Beberapa cara menghilangkan sakit kepala yang umum untuk dilakukan adalah dengan tidur atau istirahat, pemijatan, dan minum obat pereda nyeri kepala.

Namun, pada jenis sakit kepala sekunder, cara menghilangkan sakit kepala seharusnya disertai dengan mengatasi penyakit utama yang menjadi penyebab sakit kepala. Sebagai contoh kasus, jika Anda sakit kepala karena penyakit infeksi, maka Anda harus mengobati penyakit infeksi tersebut sambil meredakan gejala sakit kepala.

Hal ini dikarenakan, sakit kepala yang diobati tanpa pengobatan penyakit utama akan membuat sakit kepala kambuh kembali sehingga pengobatan sakit kepala terasa sia-sia. Berkonsultasilah dengan dokter untuk mendapatkan rekomendasi cara menghilangkan sakit kepala yang tepat.

Sumber:

  1. Undip: Tinjauan Pustaka (Nyeri Kepala). http://eprints.undip.ac.id/56222/3/SyifaSabillaJatmiputri_22010113120106_Lap.KTI_Bab2.pdf

Sumber : DokterSehat.Com