Pengurus
Perhatikan Bahaya Aborsi Sebelum Melakukannya

Aborsi merupakan tindakan mengakhiri kehamilan. Menggugurkan kandungan atau aborsi memiliki berbagai risiko yang perlu dipertimbangkan. Bahaya aborsi akan semakin besar jika tidak dilakukan oleh dokter.

Secara medis, aborsi dapat dilakukan untuk mengakhiri kehamilan terkait kondisi tertentu, sepertikeguguran, kondisi kesehatan ibu yang terancam akibat kehamilan, atau kehamilan terjadi karenapemerkosaan. Namun khusus kasus pemerkosaan, aborsi legal hanya berlaku untuk kehamilan yang usia kandungannya masih kurang dari 40 hari.

Aborsi dapat dilakukan dengan pemberian obat-obatan tertentu atau melalui tindakan operasi. Umumnya, aborsi dilakukan pada usia kehamilan di bawah 24 minggu.

Risiko Komplikasi Aborsi

Setelah aborsi, wanita biasanya akan mengalami keluhan nyeri atau kram perut, mual, lemas, dan perdarahan ringan selama beberapa hari.

Pada kondisi tertentu, tindakan aborsi dapat menimbulkan masalah kesehatan serius dalam waktu beberapa hari hingga sekitar 4 minggu setelahnya. Beberapa bahaya aborsi yang dapat terjadi adalah:

Perdarahan

Salah satu risiko yang sering terjadi setelah aborsi adalah perdarahan berat melalui vagina. Aborsi kehamilan di bawah 13 minggu memiliki risiko perdarahan yang lebih kecil dibandingkan kehamilan yang usianya sudah di atas 20 minggu.

Perdarahan berat juga lebih berisiko terjadi jika masih ada jaringan janin atau ari-ari yang tertinggal di dalam rahim setelah aborsi. Untuk menanganinya, diperlukan transfusi darah dan tindakan kuret untuk mengangkat sisa jaringan.

Infeksi

Infeksi merupakan salah satu komplikasi yang sering terjadi akibat aborsi. Kondisi ini biasa ditandai dengan munculnya keputihan yang berbau, demam, dan nyeri yang hebat di area panggul. Pada kasus infeksi yang berat, bisa terjadi sepsis setelah aborsi.

Kerusakan pada rahim dan vagina

Bila tidak dilakukan dengan benar, aborsi dapat menyebabkan kerusakan pada rahim dan vagina. Kerusakan ini dapat berupa lubang maupun luka berat pada dinding rahim, leher rahim, serta vagina.

Masalah psikologis

Tak hanya masalah fisik, trauma psikologis juga dapat dirasakan oleh wanita yang menjalani aborsi. Perasaan bersalah, malu, stres, cemas, hingga depresi merupakan beberapa masalah psikologis yang banyak dialami oleh wanita setelah menjalani aborsi.

Risiko terjadinya komplikasi ini akan lebih besar jika aborsi dilakukan secara ilegal, dilakukan di fasilitas kesehatan yang kurang memadai, atau menggunakan metode tradisional yang tidak terjamin keamanannya.

Oleh karena itu, saat hendak menjalani aborsi, perlu dilakukan pemeriksaan medis dan pertimbangan dari dokter, agar risiko komplikasi tersebut dapat dicegah.

Kemungkinan untuk Kembali Hamil

Dalam waktu 4-6 minggu setelah aborsi, haid akan kembali seperti biasa. Dengan kata lain, pasien dapat hamil lagi setelah aborsi. Namun, pasien perlu melakukan pemeriksaan rutin selama setidaknya 2 minggu setelah aborsi, gunamemastikan aborsi yang dilakukan berhasil dan tidak menimbulkan komplikasi.

Setelah aborsi, risiko gangguan kesuburan tetap ada jika pasien mengalami perdarahan parah, infeksi pada rahim yang tidak ditangani, atau kerusakan dinding rahim.

Selain dapat menimbulkan masalah kesuburan, hal-hal tersebut juga dapat meningkatkan risiko terjadinya kehamilan ektopik dan persalinan prematur di kehamilan berikutnya.

Untuk mengantisipasi berbagai bahaya aborsi di atas, tanyakanlah hingga sejelas-jelasnya mengenai risiko dan persiapan yang diperlukan, saat berkonsultasi dengan dokter kandungansebelum menjalani aborsi.

Sumber : AloDokter.Com