loading...
Pengurus
obat-pencegah-kehamilan-doktersehat

Penggunaan kontrasepsi dibutuhkan untuk mencecah kehamilan. Terdapat beberapa jenis kontrasepsi seperti IUD, konsumsi pil KB, atau menggunakan kondom. Selain alat tersebut, terdapat juga kontrasepsi darurat berupa obat pencegah kehamilan yang juga sering disebut sebagai morning after pill. Apakah efektif menggunakan pil pencegah kehamilan setelah melakukan hubungan seksual?

Apa Itu Obat Pencegah Kehamilan Darurat?

Penggunaan kontrasepsi memang tidak 100% efektif untuk mencegah kehamilan. Meskipun begitu, pengguna alat kontrasepsi seperti IUD atau yang menggunakan pil KB ataupun suntik KB biasanya tidak terlalu mengkhawatirkan terjadinya kehamilan karena alat kontrasepsi yang digunakan memang cukup akurat dan efektif untuk mencegah kehamilan.

Selain menggunakan kontrasepsi seperti IUD atau pil KB, sebagian pasangan lebih memilih untuk menggunakan kondom ketika berhubungan intim untuk mencegah kehamilan. Tidak hanya dapat mencegah kehamilan, penggunaan kondom juga dapat menurunkan risiko penularan penyakit menular seksual.

Hal ini lah yang membuat kondom menjadi alat kontrasepsi yang cukup banyak direkomendasikan. Sayangnya penggunaan kondom tidak selalu berjalan lancar, ada kalanya terjadi kasus di mana kondom rusak atau tidak sengaja terlepas. Jika hal ini terjadi, maka tidak ada bedanya seperti Anda melakukan hubungan seksual tanpa pengaman.

Pada kasus seperti itu atau pada kasus hubungan seksual tanpa pengaman lainnya, kehadiran pil pencegah hamil darurat dibutuhkan. Obat pencegah kehamilan yang paling umum diresepkan oleh dokter untuk mencegah kehamilan setelah berhubungan seksual adalah Levonorgestrel.

Obat ini termasuk ke dalam obat keras yang harus didapatkan melalui resep dokter. Penggunaan obat pencegah hamil seperti Levonorgestrel tidak dapat dilakukan untuk jangka panjang karena terdapat efek samping yang mungkin terjadi. Maka dari itu obat pencegah kehamilan jenis morning after pill ini dikatakan sebagai kontrasepsi darurat atau hanya bisa dikonsumsi pada kondisi terdesak saja.

Cara Kerja Obat Pencegah Kehamilan Darurat

Obat pencegah kehamilan memiliki kandungan progestin. Cara kerja obat pencegah kehamilan seperti morning after pill adalah dengan mencegah ovulasi atau terlepasnay sel telur dari indung telur. Selain itu, obat ini juga dapat mengiritasi rahim untuk mecegah terjadinya implantasi atau menempelnya sel telur yang sudah dibuahi pada dinding rahim.

Obat pencegah kehamilan ini bekerja mecegah terjadinya pembuahan. Namun obat ini tidak akan menggugurkan kandungan jika memang pembuahan sudah terlalur terjadi. Obat ini juga tidak dapat melindungi seseorang dari infeksi menular seksual.

Apakah Obat Pencegah Kehamilan Darurat Efektif?

Efektivitas obat pencegah kehamilan darurat sebenarnya cukup tinggi. Obat jenis ini juga merupakan satu-satunya kontrasepsi yang digunakna setelah berhubungan seksual. Namun untuk tingkat keberhasilannya, tentu tergantung pada bagaimana Anda mengonsumsi obat ini.

Obat pencegah kehamilan darurat harus dikonsumsi dalam jangka waktu 72 jam setelah melakukan hubungan seksual. Jika lewat dari waktu tersebut, maka kemungkinan efektivtas obat ini akan semakin menurun.

Tingkat efektivitas obat ini mencapati 95% jika obat digunakan setelah 24 jam setelah berhubungan seksual. Jika dikonsumsi sebelum 72 jam, maka efektivitasnya masih 89%. Tentunya penggunaan obat ini juga harus dilakukan sesuai dengan aturan pakainya agar efektivitasnya terjaga.

Efek Samping Obat Pencegah Kehamilan

Penggunaan obat pencegah kehamilan darurat sebenarnya dinyatakan ralatif aman, terutama jika pengguaannya tidak sering. Meskipun begitu, masih terdapat beberapa risiko efek samping yang mungkin terjadi akibat dari penggunaan obat ini. Berikut adalah beberapa efek samping yang perlu diwaspadai:

  • Mual
  • Diare
  • Sakit perut
  • Pusing dan sakit kepala
  • Lelah
  • Payudara sakit
  • Perubahan siklus menstruasi

Efek samping ringan mungkin akan hilang dalam kurun waktu 1 hingga 2 hari. Jika efek samping memburut atau terjadi efek samping lain yang berat, segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Reaksi seperti alergi juga kemungkinan dapat terjadi, hentikan penggunaan obat jika Anda alergi terhadap obat tersebut.

Obat Pencegah Kehamilan Tidak Dijual Bebas

Pil pencegah hamil darurat tidak dijual dengan bebas. Umumnya sebelum mendapatkan obat ini, Anda diharuskan untuk berkonsultasi dengan dokter. Beberapa pertanyaan seperti alasan mengapa membutuhkan obat tersebut hingga perilaku seksual Anda mungkin akan ditanyakan pada Anda untuk melengkapi rekam medis Anda.

Selain itu, sebagian klinik atau dokter juga hanya dapat meresepkan obat pencegah kehamilan pada pasangan suami istri. Jadi, jika akan jauh lebih sulit mendapatkan pil pencegah kehamilan, jika Anda dan pasangan belum menikah.

Obat ini juga terkadang digunakan untuk korban pemerkosaan untuk mecegah kehamilan yang tidak diinginkan. Obat ini dapat dipilih sebagai langkah pencegahan, meskipun sebenarnya aborsi juga legal untuk korban pemerkosaan.

Perlu diingatkan kembali bahwa obat ini bukan merupakan pil KB jangka panjang sehingga hanya boleh digunakan dalam kondiisi darurat saja. Tidak ada salahnya memiliki cadangan obat pencegah kehamilan di rumah, tapi jangan gunakan jika bukan dalam keadaan darurat.

Mencegah Kehamilan dengan Cara Lainnya

Pada dasarnya penggunaan kontrasepsi yang aman harus diseuaikan dengan kebutuhan dan lebih baik jika di bawah pengawasan dokter, agar Anda juga dapat dengan jelas mengetahui risiko dan manfaatnya.

Selain menggunakan kontrasepsi, terdapat cara lain yang dapat digunakan untuk mencegah kehamilan yaitu seperti:

  • Tidak berhubungan intim di masa subur
  • Ejakulasi di luar

Meskipun kedua cara ini dapat dilakukan untuk mencegah kehamilan, tapi potensi terjadinya kehamilan masih tetap ada jika Anda menggunakan kedua cara ini, sehingga cara ini tidak dapat dianggap efektif untuk mencegah kehamilan.

Sebaiknya diskusikan dengan pasangan sebelum melakukan hubungan seksual jika memang tidak menginginkan berhubungan seksual, tapi belum menginginkan terjadinya kehamilan.

Sumber : DokterSehat.Com