Pengurus
mudik-puasa-dehidrasi-doktersehat

Menjelang hari Lebaran, jutaan masyarakat melakukan perjalanan mudik untuk pulang ke kampung halaman. Hanya saja, mengingat proses mudik bisa dilakukan di siang hari saat berpuasa, apakah kita tetap perlu menjalankannya atau sebaiknya tidak puasa demi mencegah dehidrasi?

Puasa atau tidak saat mudik?

Menteri Kesehatan Nila Moeloek menyebut bagi pemudik yang memang sudah menyiapkan mental dan fisik untuk melakukan ibadah puasa, maka mereka bisa tetap menjalankannya meski harus melakukan perjalanan jauh, baik itu dengan memakai kendaraan sendiri atau memakai kendaraan umum. Hanya saja, mereka juga harus memperhatikan asupan makanan dan minuman saat sahur agar tetap berstamina dan tidak mudah mengalami dehidrasi.

“Saat sahur, pastikan makanan memiliki nutrisi yang lengkap. Selain itu, pastikan untuk minum air putih dengan cukup demi menjaga cairan tubuh seharian,” saran Nila.

Meskipun begitu, mengingat kondisi cuaca sedang cukup panas, kita juga sebaiknya tidak memaksakan diri untuk terus berpuasa, apalagi jika memakai kendaraan sendiri. Jika kita sudah mengalami gejala dehidrasi dan harus terus berkendara, sebaiknya membatalkan puasa demi menjaga kondisi tubuh.

Dehidrasi tak hanya akan membuat tubuh merasa haus, melainkan kehilangan respons dan menurunkan kemampuan otak untuk berkonsentrasi dan berpikir jernih. Jika kita tetap memaksakan diri untuk terus berpuasa, bisa jadi hal ini akan menyebabkan terjadinya kecelakaan.

Risiko dehidrasi saat menjalankan arus mudik

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyebut saat ini Indonesia sudah memasuki musim kemarau dengan suhu bisa mencapai lebih dari 30 derajat Celcius. Hal ini berarti, perjalanan mudik di siang hari bisa membuat tubuh cepat lelah dan akhirnya mengalami dehidrasi.

Selain itu, jika kita melakukan perjalanan mudik dengan memakai sepeda kotor, akan rentan terpapar udara kotor, debu, dan berbagai hal lain yang bisa memicu infeksi saluran pernapasan atas (ISPA).

“Musim kemarau membuat risiko dehidrasi para pemudik cukup tinggi. Selain membawa bekal air minum, penyedia tempat istirahat juga sebaiknya menyediakan air minum bagi pemudik yang mengalami dehidrasi,” ucap Dwikorita.

Beberapa gejala dehidrasi yang patut diwaspadai

Pakar kesehatan menyarankan siapa saja untuk mewaspadai gejala dehidrasi saat menjalani arus mudik dan sebaiknya mempertimbangkan membatalkan puasa jika mulai mengalaminya, apalagi jika hal ini terjadi di waktu yang masih jauh dari waktu berbuka.

Berikut adalah gejala-gejala dehidrasi yang harus diwaspadai.

  1. Badan terasa lemas

Gejala pertama yang akan dirasakan jika mengalami dehidrasi adalah tubuh yang sangat lemas. Jika kita tidak kunjung mengatasi masalah kekurangan cairan ini, dikhawatirkan akan membuat gejala lemas semakin parah dan akhirnya memicu hilangnya kesadaran. Jika kita mengalaminya saat berkendara, bisa jadi risiko kecelakaan akan meningkat.

  1. Bibir terasa sangat kering

Bibir kering, tenggorokan terasa tercekat hingga susah menelan ludah, dan rongga mulut juga akan terasa sangat kering jika mulai mengalami dehidrasi.

  1. Menurunnya kesadaran

Salah satu organ tubuh yang mengalami dampak paling buruk dari dehidrasi adalah otak. Hal ini bisa membuat respons tubuh semakin menurun dan akhirnya kehilangan kesadaran. Sirkulasi darah juga cenderung mengalmi gangguan.

  1. Jantung berdebar-debar

Dehidrasi membuat darah menjadi lebih kental sehingga semakin sulit untuk dipompa ke berbagai bagian tubuh. Jantung pun meresponsnya dengan memompa darah jauh lebih kencang dan cepat. Hal inilah yang akhirnya membuat kita merasakan gejala berdebar-debar.

  1. Mata terlihat cekung dan sayu

Dehidrasi berat juga bisa dilihat dari kondisi mata. Jika mata sudah terlihat cekung dengan kelopak mata bagian bawah terlihat semakin besar dan sayu, sebaiknya kita segera mengatasi masalah dehidrasi demi mencegah dampak yang lebih buruk.

Sumber : DokterSehat.Com