Pengurus
obat-meropenem-doktersehat

Meropenem obat apa? Meropenem adalah obat golongan antibiotik carbapenem. Obat ini bekerja mengatasi infeksi akibat bakteri dengan cara membutuh bakteri. Kenali lebih jauh tentang Meropenem mulai dari manfaat, dosis, efek samping, dan lainnya tentang Meropenem berikut ini.

Manfaat Meropenem

Manfaat Meropenem secara umum adalah untuk mengatasi infeksi bakteri. Beberapa kondisi yang umumnya diatasi menggunakan obat Meropenem adalah seperti berikut ini:

  • Infeksi paru-paru akibat bakteri seperti pneumonia
  • Infeksi paru-paru dan bronkial pada pasien dengan cystic fibrosis
  • Infeksi salurah kemih
  • Infeksi perut
  • Infeksi setelah melahirkan
  • Infeksi kulit dan jaringat kulit
  • Infeksi bakteri pada otak akut (meningitis)

Infeksi yang diatas menggunakan Meropenem kebanyakan merupakan infeksi berat. Meropenem yang termasuk antibiotik carbapenem yang digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri parah atau berisiko tinggi.

Dosis Meropenem

Meropenem tersedia dalam bentuk serbuk dan diberikan melalui intravena dengan menggunakan infus maupun injeksi. Dosis Meropenem bergantung pada jenis dan juga beratnya infeksi yang diderita. Berikut adalah Meropenem dosis yang disarankan:

1. Dosis Meropenem untuk dewasa

Dosis untuk orang dewasa umumnya adalah antara 500 mg hingga 2 gram. Disus diberikan setiap 8 jam. Dosis ini dapat dikurangi pada pasien yang mengalami gangguan fungsi ginjal. Dosis yang diberikan berdasarkan berat infeksi yang diderita.

2. Dosis Meropenem untuk anak-anak dan remaja

Dosis untuk anak di atas 3 bulan hingga 12 tahun ditentukan dari berat anak. Dosis yang umum adalah antara 10 mg hingga 40 mg untuk setiap kilogram berat badan anak. Dosis biasanay diberikan setiap 8 jam sekali. Anak-anak yang memiliki berat di atas 50 kg diberikan dosis dewasa.

Dosis dapat berubah sesuai dengan kondisi dan keburuhan pasien. Dosis tidak dapat diganti tanpa izin dan saran dari dokter.

Petunjuk Penggunaan Meropenem

Penggunaan obat Meropenem sebaiknya digunakan sesuai dengan aturannya. Berikut adalah petunjuk penggunaan Meropenem:

  • Meropenem diberikan dengan suntikan atau infus melalui pembuluh darah vena.
  • Umumnya Meropenem diberikan oleh doktert atau perawat, namun dapat juga diajarkan caranya kepada pasien atau keluarga pasien jika dibutuhkan.
  • Meropenem dapat diberikan melalui infus intravena selama sekitar 15 hingga 30 menit.
  • Cairan harus dikocok lebih dulu sebelum digunakan.
  • Gunakan obat ini seusai dengan dosis dan juga petunjuk dari dokter.
  • Injeksi tidak boleh dicampurkan dengan cairan yang berisikan obat-obatan lain.
  • Usahakan untuk mendapatkan suntikan pada waktu yang sama setiap harinya.
  • Jangan gunakan obat ini tanpa berdiskusi dengan dokter.

Petunjuk Penyimpanan Meropenem

Berikut adalah petunjuk penyimpanan Meropenem yang harus diperhatikan:

  • Simpan obat Meropenem pada suhu di bawah 25°C.
  • Simpan obat Meropenem di tempat kering dan tidak lembap.
  • Hindari obat Meropenem dari cahaya atau sinar matahari langsung.
  • Hindari obat Meropenem dari jangkauan anak-anak dan hewan peliharaan.

Penyimpanan untuk injeksi dan infus dapat berbeda setelah pengggunaan.

Efek Samping Meropenem

Obat-obatan jenis apapun berpotensi menimbulkan efek samping, begitu juga dengan Meropenem. Beberapa efek samping yang mungkin timbul dari obat Meropenem adalah sebagai berikut ini:

  • Reaksi alergi
  • Nyeri perut
  • Mual
  • Muntah
  • Diare
  • Sakit kepala
  • Ruam dan gatal pada kulit
  • Nyeri dan peradangan
  • Peningkatan trombosit
  • Penurunan sel darah putih
  • Kesemutan
  • Infeksi jamur pada vagina
  • Radang usus
  • Kejang
  • Nyeri sendi

Efek samping di atas tidak selalu terjadi. Efek samping dapat terjadi akibat penggunaan obat berlebihan, interaksi obat, penggunaan jangka panjang, atau karena kondisi tertentu dari setiap pasien yang tentunya berbeda-beda.

Jika Anda merasakan gejela efek samping berat dari penggunaan obat ini, segera hentikan penggunaan obat dan konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Interaksi Obat Meropenem

Interaksi obat dapat terjadi ketika Meropenem digunakan bersama dengan jenis obat-obatan lain tertentu. Interaksi obat menyebabkan efektivitas obat menurun dan dapat meningkatkan potensi terjadinya efek samping.

Berikut adalah jenis obat yang sebaiknya tidak digunakan bersama dengan Meropenem:

  • Probenecid
  • Asam valproat, natrium valproat, valpromida
  • Antikoagulan

Daftar obat di atas kemungkinan bukan merupakan daftar lengkap. Beri tahu dokter apabila Anda sedang mengonsumsi atau belakangan mengonsumsi obat-obatan tertentu. Konsumsi alkohol juga dapat menyebabkan interaksi obat, maka sebaiknya dihindari.

Diskusikan juga dengan dokter tentang jenis makanan atau minuman yang sebaiknya dihindari selama penggunaan obat Meropenem untuk menghindari interaksi obat.

Peringatan dan Perhatian Meropenem

Meropenem termasuk ke dalam jenis obat keras yang penggunaannya harus melalui resep dokter. Berikut adalah beberapa hal lain yang perlu menjadi peringatan dan perhatian selama penggunaan obat Meropenem:

  • Jangan gunakan obat Meropenem pada pasien yang hipersensitif pada Meropenem dan komponen lain yang terdapat dalam obat ini. Beri tahu dokter jika Anda memiliki riwayat hipersensitif terhadap obat antibiotik jenis lainnya.
  • Hentikan penggunaan obat jika terjadi reaksi alergi dan segera konsuktasikan ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
  • Hati-hati penggunaan pada pasien dengan gangguan hati atau gangguan ginjal berat.
  • Hati-hati penggunaan pada pasien yang mengalami diare parah setelah mengonsumsi jenis antibiotik lain.
  • Obat ini dapat menyebabkan sakit kepala dan kesemutan serta gerakan otot tidak sadar dan menyebabkan penurunan kesadaran. Tidak disarankan mengemudi atau mengoperasikan mesin setelah menggunakan obat ini.
  • Sejumlah kecil Meropenem dapat masuk ke dalam ASI. Penggunaan obat ini pada ibu menyusui sebaiknya didiskusikan lebih dulu dengan dokter.
  • Beri tahu dokter jika Anda sedang merencanakan kehamilan atau sedang hamil. Penggunaan obat ini selama masa kehamilan tidak disarankan dan sebaiknya digunakan hanya jika tidak terdapat obat lain.

Sumber : DokterSehat.Com