Pengurus
Kesalahpahaman Umum Tentang Depresi

Depresi adalah suatu gangguan suasana hati atau mood yang terjadi terus-menerus selama minimal dua minggu. Depresi ditandai dengan kehilangan minat terhadap hal-hal yang biasanya disukai, merasa tidak bertenaga, tidak bernafsu makan, dorongan seksual menurun, dan merasa putus asa, bersalah, atau rendah diri.

Meskipun saat ini pengetahuan masyarakat tentang depresi sudah jauh lebih baik, kadang masih ada juga kesalahpahaman yang beredar tentang depresi.

Pemahaman yang Salah tentang Depresi

Berikut ini adalah contoh kesalahpahaman masyarakat terhadap depresi:

Depresi dianggap sama dengan kesedihan Istilah ‘depresi’ sering kali diucapkan terlalu bebas untuk menggambarkan rasa sedih. Kesedihan karena kegagalan atau kehilangan seseorang dalam hidup adalah hal wajar yang pernah dialami hampir semua orang. Akan tetapi, kesedihan sesaat ini berbeda dengan depresi. Depresi dapat berlangsung selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan, dan membuat seseorang terus-menerus merasa tidak bahagia, tidak bertenaga, lemas, putus asa, dan tidak berminat terhadap apa pun.
  • Depresi membutuhkan alasan spesifik Banyak orang beranggapan bahwa jika seseorang sukses atau memiliki kehidupan yang mapan, maka ia tidak memiliki alasan untuk depresi. Contohnya, seseorang dengan kondisi karier, keuangan, dan hidup rumah tangga yang stabil dianggap tidak memiliki alasan untuk depresi. Nyatanya, depresi bisa tetap terjadi pada orang-orang yang sukses. Mereka bisa tetap merasa tidak cukup baik dan merasa rendah diri. Munculnya depresi tidak harus selalu dipicu oleh kondisi atau kejadian tertentu yang menyebabkan trauma psikis.
  • Antidepresan saja cukup untuk menyembuhkan depresi Dokter akan meresepkan obat antidepresan untuk membantu mengatur aktivitas zat-zat kimia dalam otak guna meringankan gejala depresi. Akan tetapi, antidepresan tanpa psikoterapi tidak akan memberikan hasil yang maksimal.
  • Berbicara tentang depresi akan membuat penderitanya makin depresi Ada yang beranggapan bahwa membahas depresi dengan penderitanya akan membuat ia semakin depresi. Pada kenyataannya, penderita depresi yang dibiarkan sendirian dengan pikirannya justru lebih berisiko untuk melukai diri. Jika keluarga atau teman mau mendengarkan tanpa menghakimi, maka penderita justru bisa merasa terbantu dan tidak sendirian.
  • Hal-hal di atas adalah beberapa contoh dari kesalahpahaman tentang depresi yang beredar di masyarakat. Jika Anda memiliki teman atau keluarga yang menderita depresi dan masih bingung bagaimana cara yang tepat untuk menyikapinya, Anda dapat meminta petunjuk lebih lanjut dari psikolog atau psikiater.

    Ditulis oleh:

    dr. Irene Cindy Sunur

    Sumber : AloDokter.Com