Pengurus
Hipertensi pada Anak Mungkin Terjadi, Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

Banyak orang mengira tekanan darah tinggi atau hipertensi, hanya dialami orang dewasa atau lanjut usia (lansia). Padahal kondisi ini juga bisa terjadi pada anak-anak. Yuk Bunda, kenali penyebab dan cara mengatasinya.

Tekanan darah terukur dari seberapa kuat tekanan yang diberikan saat darah mengalir melalui pembuluh darah. Pada penderita hipertensi, darah yang dipompa memiliki tekanan yang terlalu kuat ke pembuluh darah, sehingga dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah, jantung, dan organ tubuh lain.

Kondisi ini sering kali tidak didahului gejala apapun. Namun, kondisi hipertensi yang tergolong serius dan perlu segera penanganan dokter dapat dikenali dari gejala sakit kepala, muntah, jantung berdebar, sesak napas, kejang, atau nyeri dada. Bila Si Kecil mengalami keluhan ini, disarankan untuk segera memeriksanya pada dokter.

Berbagai Kemungkinan Penyebab Hipertensi pada Anak

Ada beberapa kondisi maupun kebiasaan yang dapat menjadi penyebab hipertensi pada anak, di antaranya:

Penyakit bawaan sejak lahir

Pada anak, hipertensi kebanyakan disebabkan oleh beragam kondisi kesehatan lain yang memengaruhi aliran darah. Misalnya penyakit jantung bawaan, penyakit ginjal, gangguan hormonal, maupun kelainan genetik.

Terlalu banyak makan

Terlalu banyak makan, terutama makanan ringan yang mengandung gula bisa menjadi salah satu penyebab utama kelebihan berat badan (overweight) dan obesitas pada anak, yang kemudian lebih mudah mengalami hipertensi. Hipertensi anak akibat obesitas lebih sering dialami anak usia 7 tahun ke atas.

Kurang aktivitas

Hati-hati, Bun, hipertensi lebih berisiko dialami anak-anak yang kurang aktif bergerak dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan duduk diam, seperti main games atau menonton TV.

Di samping itu, hipertensi lebih sering dialami anak-anak dengan keluarga yang mengalami hipertensi, mengalami diabetes tipe 2 atau kolesterol tinggi. Kemudian anak laki-laki, perokok pasif, memiliki gangguan tidur, dan sedang menjalani pengobatan tertentu, juga lebih berisiko mengalami hipertensi.

Cara Mengatasi Hipertensi pada Anak

Untuk memastikan diagnosis hipertensi pada anak, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik serta bertanya pada orang tua mengenai riwayat kesehatan anak, tingkat aktivitas dan nutrisi, serta riwayat kesehatan keluarga.

Kemudian akan dilakukan pemeriksaan tekanan darah, kemungkinan akan dilakukan beberapa kali untuk memastikan tekanan darah (umumnya perlu dilakukan pengecekan kunjungan dokter lebih dari satu kali). Selain itu, dokter mungkin akan melakukan beberapa pemeriksaan lain, termasuk tes darah, tes urine, rekam jantung (EKG), dan USG jantung atau ekokardiografi.

Jika hipertensi pada anak tergolong ringan atau tahap 1, dokter kemungkinan akan menyarankan perubahan gaya hidup, termasuk konsumsi makanan sehat dan lebih banyak berolahraga.

Sementara obat penurun tekanan darah hanya akan diberikan jika perubahan gaya hidup kurang berhasil menurunkan hipertensi, atau jika anak mengalami kondisi kesehatan lain seperti diabetes. Obat hipertensi anak kemungkinan diberikan sementara atau memerlukan waktu lebih lama, tergantung kondisi anak.

Apabila hipertensi disebabkan penyakit atau gangguan kesehatan lain, maka mengatasi kondisi tersebut, umumnya dapat mengendalikan tekanan darah. Misalnya jika hipertensi disebabkan kelebihan berat badan, maka setelah anak berhasil menurunkan berat badan dan tekanan darah telah terkendali, konsumsi obat hipertensi dapat dihentikan.

Hipertensi anak sebaiknya segera mendapat penanganan yang tepat. Jika tidak segera ditangani, hipertensi menyebabkan komplikasi berat bagi kesehatan jantung, pembuluh darah, dan ginjal.

Agar Anak Terhindar dari Hipertensi

Bunda, tekanan darah anak sebaiknya mulai diperiksa teratur sejak usia 3 tahun, terutama jika ia mengalami kondisi berisiko seperti lahir prematur. Beberapa cara berikut dapat membantu mengurangi risiko Si Kecil mengalami hipertensi:

Konsumsi makanan sehat

Berikan Si Kecil makanan sehat dengan pola gizi yang seimbang. Anak perlu mengurangi makanan yang diproses dan minuman manis, serta lebih banyak mengonsumsi sayur dan buah segar alami, serta makanan dari gandum utuh. Hati-hati juga pada makanan yang dengan kadar garam tinggi di restoran cepat saji, seperti ayam goreng garing dan pizza. Jika perlu, dokter gizi dapat membantu Bunda untuk saran makanan dan penyajian yang tepat untuk Si Kecil.

Jauhkan anak dari rokok

Meskipun anak tidak merokok, tapi jika ia sering berada di lingkungan orang yang merokok, ia bisa jadi perokok pasif lho, Bun. Selain meningkatkan tekanan darah, menjadi perokok pasif juga dapat menyebabkan gangguan pembuluh darah dan jantung.

Hidup aktif dan berolahraga teratur

Olahraga secara rutin sangat dianjurkan untuk mengoptimalkan tumbuh kembangnya menjadi anak yang sehat. Jika tidak memungkinkan, pastikan saja Si Kecil aktif bergerak selama setidaknya satu jam sehari. Jangan lupa juga batasi waktu anak duduk diam seperti menonton TV atau main games ya, Bun.

Jadi jangan tunda menciptakan gaya hidup sehat dalam keluarga sejak dini. Agar anak tumbuh sehat, dan terhindar dari hipertensi maupun penyakit berbahaya lainnya. Konsultasikan ke dokter, jika timbul gejala-gejala hipertensi pada anak untuk penanganan yang tepat.

Sumber : AloDokter.Com