loading...
Pengurus
mitos-asam-urat-doktersehat

Asam urat adalah salah satu penyakit yang sering menyerang masyarakat Indonesia. Sayangnya, cukup banyak mitos yang menyertai penyakit ini. Keberadaan mitos penyakit asam urat ini membuat pencegahan atau penanganan penyakit ini tidak maksimal. Sebenarnya, apa sajakah mitos tentang asam urat yang sebaiknya tidak kita percayai lagi?

6 mitos penyakit asam urat yang banyak dipercaya

Asam urat bisa membuat pengidapnya menderita. Hal ini disebabkan oleh rasa nyeri yang muncul akibat penyakit ini sangatlah luar biasa. Sayangnya, karena ada banyak mitos yang tidak benar, penanganan penyakit ini tidak bisa dilakukan dengan maksimal.

Berikut adalah beberapa mitos asam urat yang tersebar dan banyak dipercaya:

  1. Asam urat hanya menyerang pengidap obesitas

Banyak orang yang percaya jika penyakit asam urat hanya akan menyerang mereka yang menderita masalah obesitas atau berat badan berlebihan. Padahal, dalam realitanya siapa saja bisa terkena asam urat, termasuk yang memiliki berat badan ideal. Hanya saja, mereka yang mengalami obesitas akan memiliki risiko lebih besar.

Pakar kesehatan John Reveille, MD yang berasal dari University of Texas Health Science Center, Houston, Amerika Serikat menyebut asam urat cenderung lebih sering terjadi pada penderita diabetes, kolesterol tinggi, atau hipertensi. Selain itu, faktor genetik terkadang juga bisa mempengaruhi risiko terkena penyakit ini.

  1. Asam urat hanya menyerang pria

Herbert Baraf, MD yang berasal dari George Washington University Medical Center, Amerika Serikat menyebut pria memang lebih rentan terkena asam urat. Bahkan, risikonya bisa mencapai 10 kali lipat jika dibandingkan wanita. Hanya saja, bukan berarti wanita tidak akan mengalaminya. Mereka tetap bisa terkena asam urat jika menerapkan gaya hidup yang tidak sehat atau berusia lebih dari 60 tahun.

  1. Asam urat hanya akan menyerang jempol kaki

Banyak orang yang berpikir jika serangan asam urat hanya akan muncul di persendian jempol kaki. Padahal, hampir semua persendian rentan mengalami masalah kesehatan ini. Memang, seringkali penyakit ini akan menyerang persendian pada tangan atau kaki. Bahkan, jika tidak kunjung diobati, penumpukan kristal asam urat yang runcing ini bisa memicu kerusakan permanen pada persendian tersebut.

  1. Asam urat tidak akan memicu kematian

Pakar kesehatan Robert Keenan, MD dari Duke University menyebut asam urat memang tidak akan memicu kematian secara langsung. Hanya saja, jika kondisi ini tidak ditangani dengan baik dan dibiarkan menjadi semakin parah, bisa jadi akan muncul komplikasi yang akan membahayakan kondisi kesehatan dan nyawa.

Sebagai contoh, pakar kesehatan menyebut risiko terkena serangan jantung dan stroke pada penderita asam urat cenderung meningkat dengan signifikan. Bahkan, penderita asam urat juga akan lebih rentan mengalami resistensi insulin. Jika penderita diabetes juga menderita asam urat hingga mengalami tophi atau benjolan pada persendian, maka benjolan ini bisa memicu infeksi yang berbahaya.

  1. Tidak ada obat untuk mengatasi asam urat

Memang, asam urat tidak bisa diobati, namun bukan berarti tidak ada obat yang bisa dikonsumsi untuk menghentikan perkembangannya. Selain itu, ada obat yang bisa mengatasi rasa nyeri atau peradangan yang disebabkan oleh serangan asam urat. Karena alasan inilah penderita asam urat sebaiknya berkonsultasi ke dokter untuk mendapatkan obat-obatan yang tepat demi mencegah kondisi kesehatannya semakin memburuk.

  1. Perubahan gaya hidup tidak mampu mencegah asam urat

Pakar kesehatan menyebut perubahan gaya hidup sangatlah penting untuk dilakukan penderita asam urat demi mencegah serangan dari penyakit ini. Sebagai contoh, dengan menghindari makanan tinggi purin atau minuman beralkohol, maka penderitanya tidak akan mudah terkena peradangan pada persendian yang menyiksa.

Sumber : DokterSehat.Com